Follow Me @lavidaqalbi

4/16/2019

Kunci Hidup Bahagia, No. 5 Bikin Tercengang!

April 16, 2019 0 Comments

what kind of title is that, pft. 
"Lavida sekarang terlihat lebih bahagia. Ah, aku bahagia ketika lihat Lav senyum dan ketawa lebar kayak gini!"
"Lav, kamu berubah ya sekarang..."
"Aku lebih suka Lav yang sekarang,"
"Cie yang mood bahagianya bisa bertahan dari pagi sampai sore. Biasanya pagi ceria, sore mukanya bertekuk-tekuk,"
Monolog di atas adalah beberapa kalimat yang dilontarkan manusia-manusia yang hidupnya berputar di sekitarkuteman-teman sekolah yang rupanya menyadari bahwa aku berubah. Awalnya, aku tidak sadar bahwa aku tidak seperti diriku yang dulu. Karena orang-orang bilang aku berubah, aku beru menyadari, rasanya aku bukan Lavida yang depresi lagi. Aneh memang.
Rasanya aku sudah membunuh Lavida yang dulu. Jujur saja, aku sudah membunuh Lavida berkali-kali. Eh, dua kali sih sebenarnya, hihi. Yang pertama, aku membunuh Lavida yang dulunya ceria di masa kecil, lalu menghidupkan Lavida remaja yang selalu pesimis dengan hidup. Sekarang, yang kedua, Lavida yang pesimis di masa remaja kubunuh lagi. Lalu bermetamorfosis menjadi Lavida menuju dewasa yang mulai memandang hidup sebagai kesempatan langka yang terlalu berharga untuk disia-siakan. Sekarang aku Lavida yang selalu melihat hidup dari perspektif positif dan tidak takut dengan kegagalan. Aku percaya, bahwa setiap manusia punya masanya sendiri-sendiri untuk mencapai fase dimana ia sadar arti hidupnya di dunia ini.
"Every flower blooms in its own time— Ken Petti.
Dulu aku begitu benci dengan hidup. Aku hidup dalam penjara dan menjadi robot, tidak pernah bisa bebas dari tuntutan orang-orang sekitar. Tiap aku ingin melakukan apa yang kuinginkan, aku selalu ditakut-takuti dengan kegagalan. Dan tentu saja, aku gagal. Karena memang tidak ada yang menunjukkan jalan padaku, bagaimana harus mencapai targetku. Mereka hanya fokus agar aku mengikuti kemauan mereka. Padahal di balik itu, mereka tanpa sadar membatasi diriku untuk tumbuh, sekaligus membunuh kreativitasku. Akhirnya, aku menjadi manusia yang terlalu dependen terhadap orang lain. Aku takut dengan pilihanku sendiri, selalu bergantung pada orang. Aku jadi meremehkan diriku, termasuk pendapatku sendiri. Sedangkan aku tahu itu buruk untukku.
"Jangan pernah bergantung dengan manusia, manusia bisa mengecewakan. Alasannya? Mereka cuma manusia. Manusia tempatnya salah, catet tuh." itu kalimat seseorang yang stuck di pikiranku, dan itu yang kupelajari dari kegagalanku di masa lalu.
"She knows her worth, and the games changed."
Saat aku memutuskan sesuatu, lalu melakukannya, lalu gagal. Orang sekitar akan meremehkanku dengan berkata, "Tuh 'kan, gagal. Coba kalau kamu ikuti saranku, pasti hasilnya lebih baik". But, I was like, excuse you? Ini hidupku. Tentu, hakmu untuk berpendapat. Tapi tidak untuk mendikte apa yang harus kuputuskan. Begitu lama aku hidup di siklus toxic ini. Ditambah lagi, aku tipe manusia yang gak enakan. Aku menjadi manusia yang biasa disebut people pleaser. Aku selalu mengesampingkan kepentingan diriku sendiri, demi orang lain yang bahkan aku tidak yakin akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kulakukan untuknya.
Beberapa temanku bilang bahwa aku naif, dan itu hal yang bagus. Tentu, at some point, it's good. Karena orang akan berpikir bahwa aku orang yang baik dan akan mendapat nilai plus di mata masyarakat. Tapi jika terlalu berlebihan, somehow itu menjadi bumerang. Akan ada manusia toxic yang memanfaatkan sisiku tersebut hanya untuk kepentingannya sendiri padahal mengerti bahwa itu membuatku tersiksa, ditambah lagi mereka tidak juga sadar diri. Namun aku sadar, bukan salah mereka. Ini semua salahku, yang tidak berpendirian dan membiarkan harga diriku diinjak-injak.
Penyesalan dan kegagalan, perpaduan antara kutukan dan keberuntungan yang pernah terjadi padaku berkali-kali, adalah pelajaran terbesar hidup yang pernah diberi. Sekarang, aku bisa dengan mantap berkata bahwa aku bersyukur untuk semua masalahku.
"Pain always changes people."
Jadi, kembali ke pertanyaan awal, bagaimana aku bisa berubah? Jawabannya simpel, karena aku punya rasa ingin. Karena aku sadar, bahwa tahap awal agar aku lebih bahagia adalah melakukan apa yang kuinginkan. Bagaimana cara supaya aku bisa berani dan percaya diri dengan keputusan yang kuambil? Dengan cara mencintai diriku sendiri. "Hah? Mencintai diri sendiri? Egois, dong! Dasar narsistik! Individualis!" sahut seseorang. Wait, wait, wait... Relax, boy. Relax, girl. Let me explain my point. But first, check my life's rule below :
PERATURAN
How to Be Happy
— by Lavida L. Q.
  1. Cintai dirimu sendiri; sampai titik dimana ketika ada orang yang tidak bisa menghargaimu, kamu tidak peduli pada orang itu dan bisa dengan mudah meninggalkannya. Bukannya sombong, tapi menghargai dirimu sendiri dan memilih untuk tidak berlama-lama menyakiti diri dengan bersama orang yang kehadirannya hanya membuat sedih daripada bahagia. Cintai orang lain, tapi lebih cintai dirimu. Di dalam dirimu mengalir emas, jadi jangan menganggap dirimu debu kotor. Klise, tapi dirimu berharga. Jika kamu sendiri tidak menganggap dirimu berharga, maka tanpa sadar alam bawah sadarmu membuat gerak-gerikmu terlihat tidak berharga juga di mata orang lain. Lalu akhirnya? Orang lain juga tidak menghargaimu.
  2. Berani berpendapat (SPEAK UP); untuk berpendapat, jangan pernah ragu. Jangan pernah berpikir bahwa pendapatmu tidak berharga, bahwa pendapatmu bodoh, bahwa pendapatmu aneh, dan lain-lain. Semua manusia memiliki pemikirannya sendiri. Ingat di LKS PPKN kelas 12? Pasal 28 E ayat (3), "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat".
  3. Lakukan, hilangkan ragu; segala pilihan yang kamu ambil, lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Keragu-raguan hanya akan menghambatmu untuk segera bertindak, akan memperlambat waktumu untuk sukses. Bahkan menghambat potensimu untuk melakukan yang terbaik. Saat kamu yakin akan suatu hal, terkadang alam memiliki rencana lucu untuk mengabulkannya pada saat kamu bingung bagaimana. Cukup lakukan sekeras yang kamu bisa untuk menggapai apa yang kamu yakini benar.
  4. Bangkit setelah gagal; bukannya menyalahkan diri. Kegagalan yang kamu rasakan adalah cara Tuhan memberi bantuan dengan menunjukkan dimana celah yang kamu lewati, menunjukkan cacatmu. Sehingga kamu bisa lebih mudah mengerti letak dimana yang harus kamu perbaiki agar bisa sukses nantinya. Tapi tahap awal yang harus dilakukan adalah kamu harus bangkit setelah kegagalan dan terus mencoba. Jika gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Semakin banyak kegagalanmu, semakin kamu mengerti cacat mana yang harus kamu perbaiki.
  5. Be independent, but not individualist; ingin ke cafe sendiri menikmati me time? Lakukan. Tentu, orang akan melihatnya aneh. "Ini anak ga punya teman apa gimana, kasian banget" that words might out from some stranger's mouth but who cares, right? Jika menurutmu ketenangan adalah sesuatu yang bisa dicapai ketika kamu sendirian, itu tidak apa-apa. Kesendirian bukan sesuatu yang harus dikasihani, tapi suatu ketenangan yang banyak orang lain belum sadari betapa nyaman rasanya. Independent juga bukan berarti hanya sendiri, namun juga mandiri. Mandiri dalam berpendapat dan berperilaku, juga berani bertanggung-jawab atas pilihannya. Jika kamu menguasai peraturan nomor 5 ini, kamu akan lebih tenang. Dan ketenangan adalah kunci awal kebahagiaan.
  6. Hindari drama; lebih baik mana, mempergunakan waktu untuk memperbaiki diri supaya bisa berguna untuk masyarakat atau berlarut-larut dalam suatu masalah kecil yang dibesar-besarkan?
  7. Tegas, tapi tidak keras; kepada diri sendiri. Tetaplah baik pada orang lain, tapi beri batasan jika harga dirimu dianggap remeh. Bukan tugasmu untuk memperbaiki seseorang, itu tugas mereka. Beri dukungan, namun jika mereka menyakiti dirimu, tinggalkan. Learn to say no.
  8. Dengarkan dan hargai; semua orang memiliki alasan masing-masing melakukan sesuatu. Jangan menilai hanya dari kata orang lain. Harus dengar dari pelaku. Kemudian hargai alasannya. Dan ingat, menghargai berbeda dengan menyetujui.
  9. Don't overthink; tidak akan mungkin ada orang yang terpikir sepanjang hari karena melihat orang asing yang jatuh terpeleset akibat kulit pisang di dekat jalan raya.
  10. Selalu pilih keJUJURan yang pahit daripada kebohongan yang manis. 


3/09/2019

sekelebat frasa untuk malam minggu yang sepi.

Maret 09, 2019 0 Comments

Dunia ini benar-benar panggung sandiwara. Apapun yang kamu lihat, jangan pernah percaya. Apa yang kamu cium, kamu rasa, bahkan yang kamu kecap sekalipun, bisa jadi hanyalah imitasi. Tontonan berbungkus kesempurnaan, terlihat meyakinkan dan apa adanya, namun dibalik itu terdapat permainan kebohongan yang tidak diketahui orang lain.
Kita semua pasti pernah berbohong dalam hidup kita. Kebohongan kecil ataupun besar. Kebohongan untuk kebaikan ataupun kebohongan yang murni atas dasar keinginan ego semata.
Kamu yang membaca ini, aku ingin bertanya. Pernahkah kamu berbohong? Harus jawab jujur, ya. Jangan bohong lagi, kekeke. Jika boleh kuberi sebuah tantangan, beranikah kamu jujur di depan orang yang telah kamu bohongi? Meskipun kebohongan itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, dan mungkin orang yang kamu bohongi sudah lupa akan kebohonganmu. Beranikah kamu membahasnya kembali lalu jujur padanya sesuai kenyataan yang ada? Beranikah?
Kutebak, kamu akan menggeleng dengan cepat. Hati dengan tegas memutuskan untuk tak akan pernah membahas masa lalu. Tenang saja, wajar. Aku pun tidak berani untuk membuka tabir masa laluku.
Baiklah, aku mengaku. Aku adalah seorang pendosa, aku melakukan banyak kebohongan di masa lalu, bahkan di masa sekarang. Hanya agar aku bisa lolos dari suatu kondisi yang tidak kusukai dengan mudah. Aku begitu kekanak-kanakkan dan egois, selalu ingin melalui jalan paling mudah.
Aku murid sekolah yang bahagia.
Aku mempunyai keluarga yang indah.
Aku punya banyak teman yang peduli padaku.
Aku tidak pernah disakiti orang lain.
Aku tidak pernah menangis.
Aku menanggapi semua masalah dengan bijak.
Aku tidak pernah menyerah.
Aku selalu memaafkan.
Aku tidak pernah mendendam.
Aku mencintai duniaku.
Aku bahagia.
Aku Lavida Latifatul Qalbi.


1/13/2019

Past My Bed Time

Januari 13, 2019 0 Comments

"Hate to see you like a monster So I run and hide.

Hate to ask but what's it like to leave me behind?
Are the pieces of you in the pieces of me?
I'm just so scared you're who I'll be.
When I erupt just like you do,
they look at me. Like I look at you.
Eyes like yours can't look away.
But you can't stop DNA," - DNA, Lia Marie Johnson.
Trauma. Menurut Wikipedia, kata penuh drama itu mempunyai arti bahwa hal tersebut merupakan salah satu jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Hal yang akan menghantui hidupmu, menemani jiwamu bersama bayangan gelap di pikiranmu. Membuatmu sulit untuk tertidur di malam hari, juga membuatmu gelagapan menghadapi dunia di pagi hingga sore hari.
Malam ini, monster di pikiranku datang lagi. Biasanya jika begini, aku akan menelepon seseorang untuk membantuku mengusirnya. Aku terlalu lemah, begitu pengecut untuk mengusir monster ini sendirian, aku butuh orang lain. Namun takdir kali ini mendampratku. Kali ini, aku tidak punya siapapun untuk dimintai pertolongan. Semua orang sudah meninggalkanku. Aku benar-benar sendirian sekarang, bersama monster yang mulai meracuniku. Memang ada beberapa orang yang masih peduli, namun melihat mata mereka berbinar ketika aku membawa kabar gembira bahwa aku sudah sembuh, membuatku menjadi tidak enak jika aku berkata bahwa malam ini pikiranku mulai gila lagi. Mereka begitu bahagia mengetahui bahwa aku sudah bangkit, bahwa aku kini bahagia. Aku tidak bisa mengecewakan mereka jika aku bilang bahwa malam ini sang monster telah datang lagi. Aku harus menghadapi monster ini sendirian.
Monster di kepalaku berbisik bahwa orang-orang meninggalkanku karena mereka adalah orang yang egois, tidak punya hati, dan dari awal hanya ingin mempermainkanku. Ia bilang bahwa mereka kejam, hanya ingin mengambil hal yang bisa dimanfaatkan dariku lalu pergi begitu saja ketika aku dirasa sudah tidak berguna bagi mereka. Ia bilang bahwa sekarang aku sudah mengerti sifat asli mereka, lalu apa gunanya untuk tetap berharap? Ia bilang bahwa aku lebih baik mati, lagipula sekarang sudah tidak ada yang peduli. Aku sudah tidak bisa cutting, ada seseorang yang setiap hari mengecek lenganku. Aku juga tidak mau membunuh monster di pikiranku dengan hal-hal lain yang merusak diriku lagi, aku sudah janji pada seseorang. Tapi aku tersiksa sekarang. Aku butuh ketenangan. Aku hanya bisa menangis di kamar sendirian, membuat keyboard laptop yang kugunakan untuk mengetik menjadi basah.
Monster ini masih memelukku erat selagi aku menangis, aku mulai menemukan kenyamanan di pelukannya. Perlahan, ia menampilkan film kehidupanku di masa kecil. Kembali ke masa lampau, dimana Lavida kecil berumur 6 tahun sendirian dan menangis di dalam kamar mandi. Berteriak untuk dikeluarkan namun tidak ada yang menjawab. Lalu aku melihat masa kecilku yang menutup telinga dengan kedua tangan mungilnya, sembari memejamkan matanya erat-erat di kamar mandi, terdengar suara jeritan dan tangisan di luar. Ia terduduk di kamar mandi lalu tanpa sadar tertidur sambil menahan dingin.
Keesokan paginya, ia sudah berada di atas kasur. Ia mencari seseorang, namun seseorang yang ia cari tidak bisa ia temukan dimanapun. Ia menangis kembali. Dalam hati kecilnya ia bertanya, "Mengapa ia meninggalkanku lagi? Mengapa aku sendirian lagi? Tidak bisakah setidaknya salah satu dari mereka memberiku pelukan setelah apa yang terjadi kemarin?".
Monster ini menamparku, menyadarkanku dari lamunan, membawaku kembali pada realita. Aku tersadar. Kudapati wajah seramnya satu inchi di depan hidungku. Aku melihatnaya menyeringai. Bola matanya menatapiku tajam. Aku tundukkan kepala lalu memejamkan mata. Tiba-tiba ia menarik daguku kasar, memaksaku menatapnya. Setetes air mataku jatuh, dengan lirih aku meminta "Kumohon lepaskan aku. Pergilah, kumohon... Aku lelah menghidupimu di pikiranku. Kumohon biarkan aku fokus pada kehidupanku. Kumohon... Biarkan aku tenang,". Ia terdiam untuk beberapa detik, kemudian tertawa kencang.
"Hidup denganmu memang menyenangkan, monster. Kamu janjikan padaku sesuatu yang hebat, sebuah kontrol. Kamu bilang bahwa jika aku menjauhi seseorang yang kusayangi, maka aku tidak akan pernah merasakan ditinggalkan lagi karena mereka tidak akan sempat melakukannya. Tapi apa? Aku menurutimu, dan karenamulah semua orang meninggalkanku. Jika saja aku bisa hidup seperti manusia normal dan tidak gila karena ada kamu di pikiranku, aku pasti sudah mempunyai hubungan yang sehat dengan orang-orang sekitarku. Namun karenamu, aku menjadi racun bagi orang-orang di sekitarku, yang membuat mereka akhirnya meninggalkanku. Ini semua salahmu. Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi," lanjutku padanya.
Ia bertepuk tangan sambil tertawa untuk yang kesekian kali, "Lavida bodoh. Aku ini ada untuk menjagamu dari dunia yang kotor. Masih butakah kamu dengan film yang barusan kuputar? Tidakkah kamu lihat? Semua orang memang akan meninggalkanmu. Aku memberimu saran terbaik, yaitu meninggalkan orang terlebih dahulu sebelum kamu ditinggalkan. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang sudah jelas akan berakhir? Akhiri saja secepatnya, supaya segalanya selesai. Kamulah yang terlalu bodoh. Masih saja bandel ketika aku memberi saran. Lihatlah, mereka semua meninggalkanmu, bukan? Ini semua akibat kebodohanmu. Seandainya kamu mengikuti saranku, untuk tidak pernah percaya pada siapapun. Untuk tidak pernah membiarkan hatimu dimasuki orang lain. Untuk tidak pernah menyayangi seseorang. Kamu tidak akan merasakan sakit hati yang terlalu parah seperti sekarang ini," balasnya.
"Kamu benar-benar pintar untuk memanipulasi keadaan, monster gila. Tapi setidaknya aku memiliki memori dengan orang-orang yang kusayangi lebih banyak karena aku tidak meninggalkan mereka terlebih dahulu. Setidaknya, aku merasakan sedikit kasih sayang dari mereka. Yang tidak akan bisa digantikan atau dibeli oleh apapun. Aku berhak untuk disayangi. Walau di akhir aku merasakan rasa sakit, setidaknya aku bersyukur aku memberi orang-orang yang meninggalkanku sebuah kesempatan untuk menyalurkan empati mereka. Walau aku tahu, mungkin beberapa dari mereka hanya kasihan dan tidak tulus. Tapi, kumohon pergilah! Aku sudah dalam tahap recovery. Aku sudah mulai bahagia. Untuk apa kamu datang lagi?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku selamanya akan tinggal di dalam pikiranmu. Menghantuimu tentang masa kecilmu yang tidak akan pernah bisa kamu lupa. Dan jika kamu mau bekerja-sama denganku, baguslah. Namun jika kamu ingin aku pergi, aku tidak akan pernah bisa. Kamu sudah mempersilahkanku masuk, maka selamanya aku akan tinggal. Jika kamu tidak ingin aku, bersiaplah untuk melawanku seumur hidupmu. Bersiaplah untuk selamanya sengsara berperang denganku di pikiranmu sendiri. Bersiaplah, dan ingatlah bahwa tidak akan ada yang mengerti maupun membantumu. Kamu hanya akan dianggap gila. Tidak akan ada yang mengerti keadaanmu, kecuali jika mereka rasakan sendiri. Semua ada di tanganmu. Ingatlah bahwa jika kamu memilih untuk melawanku, kamu hanya akan berperang sendirian."
"Twice as year, you come in crashing.
Nice to see you too,
but always ends too soon.
Hate to say hello,
'cause I know that it means goodbye"
 FLASHBACK
1. 2015
"Please, believe. I won't ever leave you like they did. I won't let you fight this war alone. Let me help you. Let me love you, Vid." he said while looking at my eyes. I stare into some empty space, then I found myself in my childhood memories. "Can I really believe in you?" I ask again. He nod his head. "Please, don't ever leave me." I said while trying not to burst out my tears because my mind thinking in the future he will leave me. Three months later, he left.
2. 2016
"Seriously, I'll always beside you. I'll never leave. You are my best friend. You can tell me anything about your problem, I'll hear it anytime, anywhere." she held my hand tightly. I hug her, she hugged me back. "Thank you so much," I said while thinking about with what kind of story-line she will leave in the future. And then one year later, she left me. She said, "I am so tired with all of your drama and shit. Let's just never talk again,". But it's not the only reasons. I knew something else was up. Until one week later, I found out she was trying to steal a boy I like. Well, I don't really care about the boy, I was really hurt because she said we were best friend and yet she back-stabbed me and choose that boy instead of me.

3. 2018

"Please, just tell me what happened. Your secret is safe with us." she said while holding my hand, making me flashback of old memories in 2016. I was surrounded by five girls, all of them was my classmate. I was really sceptical, I was always got betrayed by everyone in the end. Should I really give them a chance? I decided to just give them the silent treatment, not answering.
"It's okay to talk about it. We won't tell anyone. And I promise, we will never leave you," I almost rolled my eyes, but tried my best not to. There's that promise again, I am so tired of all the broken promises. I am tired, I just want to be alone.
"Lav, you are not alone. There's many people will help you here. You have to trust us. Okay?" one of them open her mouth. I sighed loudly, "Fine..." I was stupid. I gave them a chance, but inside, in my mind I was thinking about the future when they will leave. They all were really kind to me, I felt so blessed. This is the longest friendship I ever had with someone, I couldn't be happier. I let my guards down. I let them to get inside my heart. I gave them my trust, my love, my everything. But I guess, I was blind for a while. They were just trying to be nice and pitying me. I found out so I was a little bit scared, sooner or later, they will leave. And some months later, they left. Can't blame them, though. I am really hard to dealt with. And it was my fault to give someone my trust, I shouldn't have done that.

Then a boy came. He said he would marry me. He said he would never leave me. He said he would never leave me. "Vid, I am not them who left you. Just remember, I will never leave. Now, I am working so we can have a future together." I stopped myself for a while. Should I really give this person a chance? I was ignoring him for months. I was being stupid. But, he still waits for me. But I am still scared. I am still so freaking scared. Even until now. And I feel so evil. I don't love he. I love someone else in secret. I don't know what to do. I don't want to lose him, because I already love him as like my older brother, nothing more than that. But he have to leave me, because he deserve someone better than me. But still, I am so freaking scared.
"We are all broken,
that's how the light gets in," - Ernest Hemingway. 

11/14/2018

Aku Rindu Kamu, Wahai Kawan Lamaku

November 14, 2018 1 Comments
Selamat datang kembali, oh hujan. Aku menyambutmu dengan pelukan, ketika semua orang berusaha mengusirmu jauh-jauh. Aku merindukanmu sejak waktu yang lama, akhirnya kini kamu datang. Ingatkah kamu bahwa dulu kita memiliki banyak sekali kenangan? Kamu membuat hidupku yang hampa bak cangkir kosong, menjadi penuh dengan air kehidupan. Terimakasih, hujan.
Bahkan kini, akupun masih tidak jenuh akan hadirmu di hidupku. Angin dingin yang memelukku erat, juga tangisan langit yang menemaniku menangis. Terimakasih karena selalu mengusir rasa kesepian yang menggerogoti jiwaku.
Dear Hujan... Bolehkah aku menumpahkan segala kepahitan hidupku padamu? Banyak sekali yang telah terjadi ketika kamu tidak di sisiku. Tolong, guyur aku, bersihkan aku dari segala kemalangan yang menempel pada tubuhku ini. Kemarin aku beradu api dengan mereka lagi. Mereka, yang membuatku menjadi manusia paling tidak berguna di muka bumi. Umpatan dan cacian yang mereka keluarkan telah menarik pelatuk di pistol pikiranku. Aku tidak kuat lagi, hujan. Jadi kuputuskan untuk pergi dari rumah neraka itu lewat pintu belakang, aku kabur. Dan kemudian kamu segera menyambutku.
Rintikan air yang perlahan memelukku, membuat pakaian dan rambutku seketika basah kuyup. Aku memeluk diriku sendiri lebih erat, berusaha menetralisir angin yang juga ikut datang untuk menemaniku. Aku berjalan mengelilingi desa, sembari menahan rasa sakit di telapak kaki karena tidak menggunakan alas kaki. Saat itu sore hari menjelang maghrib, semua orang telah masuk ke rumah mereka masing-masing. Aku sendirian, tapi kamu datang menemaniku. Kamu juga membilas air mataku yang jatuh terus-menerus. Terimakasih.
Begitu jauh aku berjalan, sampai tak terasa mataku melihat hamparan sawah di sekitar. Sambil tetap berjalan perlahan, aku menangis di hadapanmu. Aku tidak tahu aku harus kemana, tapi kedua kakiku terus bergerak maju meski tak tahu arah. Aku bingung. Tapi setidaknya, kamu berada di sisiku, hujan... ketika semua orang pergi meninggalkanku.
Awan gelap nan mendung bernyanyi untukku, nada keras petir yang marah mewakilkan hatiku yang terbakar. Namun lagi-lagi, kamu menyiram api di hatiku dengan sabar. Mendinginkan hatiku yang panas.
Kemarin kamu yang menemaniku, tadipun kamu yang menemaniku. Ketika itu, jam di ponselku menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku sedang terduduk manis di tengah areal tempat anak muda menghabiskan waktu. Kulihat sepasang kekasih yang bercanda tawa, kulihat kedua orangtua bergandengan tangan sambil melahap gorengan ditemani anak mereka yang bermain layang-layang. Sedangkan aku sendirian di sini, menatap layar ponsel dengan tatapan kosong. Ku cek satu-persatu pesan yang masuk. Ada dari si A, si B, si C, si D. Hanya pesan klise seperti, "sudah makan belum?", "lagi ngapain?", "Vid? Oy? Bales Oy! *lalu dia menelponku 100x*", "besok jadi kan ketemuan?",  "hey cantik, nanti aku telpon kamu ya". Ya, mereka semua laki-laki. Sudah menembakku pula. Namun tidak sedikitpun aku menggubris mereka. Hatiku sedang dalam perasaan yang kacau. Dan aku menunggu pesan dari seseorang, tapi sayang sekali, orang yang kutunggu malah orang yang tidak peduli padaku. Kelihatannya mungkin seolah aku pamer karena disukai beberapa lelaki, ya? Bukan itu maksudku. Aku juga bukannya tidak bersyukur atau apa. Tapi hal-hal percintaan menurutku hanyalah kesenangan di awal berujung penyesalan di akhir. Dan aku tidak ingin penyesalan. Hidupku sudah mempunyai banyak penyesalan, aku tidak mau menambah beban.
Jadi, kukeluarkan alat bahagia sementaraku beserta sahabatnya (pemantik) dari tas. Aku memberinya nyawa lalu kumasukkan ia ke dalam paru-paru sampai seluruh hatiku terisi hangatnya untuk sementara waktu. Kupejamkan mata, menikmati sementara di dalam tubuhku yang terasa hangat. Lalu perlahan-lahan ku keluarkan ia dari bibirku, memberinya raga abu yang terlihat namun juga hanya untuk sementara. Aku tenang, rasa sedih di hatiku menghilang. Dan akupun bahagia, untuk sementara waktu.
Kemudian kamu pun datang kembali, hujan. Menjemputku yang main dengan teman lainku sampai lupa waktu, berusaha mengingatkanku, seolah seperti ibu. Airmu membuat alat bahagia sementaraku mati. Dan mau tak mau aku harus berhenti kemudian berteduh jika tak ingin terkena amarah airmu yang bisa membuatku menggigil kedinginan. Aku berpindah ke bawah pohon rindang yang tenang, yang melindungiku saat kamu marah. Maaf membuatmu kecewa, hujan. Kumohon maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji. Tapi jangan pergi. Tetaplah di sisiku, menemaniku dikala sepi—bukannya memberi badai parah kepada hatiku yang telah porak-poranda. Aku mencintaimu, hujan. Terimakasih sudah menjagaku. Aku akan berubah, jadi tolong jangan tinggalkan aku.

11/06/2018

r a n d o m

November 06, 2018 0 Comments
I love my life now, that's all.
Smile for every little things that happened to me. Good or bad, they will pass.
Let's be a better person, you and me. Yeah, you! You who read this, let's be grateful from now on. No ranting, no whining, just show gratitude.
Life's too short to just waste it in sadness or grudges or drama.
Take it easy, and sing "Let It Go" by Idiana Menzel 💜
Whatever people say, just be you. You'll be judged as being fake anyway. You'll be judged for every little thing that you do, so just do whatever you want that will makes you and people happy.
I am thankful for them, all of the people who did hurt me in the past. Without them I won't have a chance to grow up. So thank you. And anyway, by leaving me and abandons me, you didn't make my trauma more bigger. In facts, now I can deal with people who is going to leave me. I am not scared of being in relationship with someone anymore.
Yeah. I was upset and crying every night whenever I remember all the memories that we shared. But it doesn't matter anymore. I am happy now. And I think you guys must be happy too, right? We're all happy with our own path we choose
You guys taught me a very hard lessons, and I think it's because Allah loves me so much. So, I let you go. I won't take any grudges to you all, the people who left me. I will take this as a lesson.
Whatever, if I smile to you in the hallways of school, and you don't smile back... Whatever.
Whatever, if I greet you when we accidently pass each other, and you don't greet me back but act like you don't know me... Whatever.
I will keep doing what I think is the right things to do. I want to grow up. I want to be happy. So I'll think so much positivity, including thoughts about you—the people who have left me. I'll keep being nice to you, it's your problem now. Not mine. But if I can give you some advice, grow up. Be mature. Don't take any grudges towards people, and you will be happy. The end.