Follow Me @lavidaqalbi

Tampilkan postingan dengan label phrase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label phrase. Tampilkan semua postingan

6/03/2020

Nafsu Mematikan adalah Mencari Kepastian

Juni 03, 2020 0 Comments
Now Playing ; Halsey - Control

Sesuatu yang jelas. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus di suatu jam yang sama, seperti ritual. Segala hal berjalan sebagaimana mestinya tanpa ada perubahan. Membuat kita merasa aman, tahu segala hal sehingga mengerti apa yang harus disiapkan untuk menghindari kesalahan yang dapat terjadi.
Kepastian membuat kita merasa aman, karena mengetahui medan apa yang akan kita lalui. Sejak zaman purba, manusia menggunakan instingnya untuk bertahan hidup. Contohnya seperti saat mencari buruan untuk kebutuhan makan, nenek moyang kita mengandalkan strategi pikiran untuk memanipulasi hewan buruan agar merasa tidak terancam.
Misal, ingin memburu rusa. Biasanya, orang zaman dahulu membalurkan darah buruan rusa sebelumnya ke seluruh tubuh mereka agar ketika mereka mendekat ke buruan rusa yang baru, rusa baru tidak curiga karena aroma yang diciumnya adalah aroma spesiesnya. Ia merasa aman, ia menjadi lengah. Padahal, kejutan selalu datang tiba-tiba. Dan semenit kemudian, apa yang terjadi? Sekujur tubuhnya terpanggang dijadikan lauk-pauk, dan dia kalah.
Manipulasi, layaknya dua mata pisau. Kita bisa menggunakannya untuk hal baik maupun buruk. Hal baiknya seperti contoh yang sudah kuceritakan di atas. Hal buruknya, seperti yang pernah kujelaskan di artikel sebelumnya tentang Pembalasan Dendam dengan Teknik Manipulasi Emosi.
Inti yang sangat ingin kusampaikan dari rangkaian kata pembukaan di atas adalah bahwa manusia akan melakukan apapun agar ia merasa aman, bahkan meski harus melakukan hal yang menyakiti orang lain.
Di artikel sebelumnya, aku pernah berjanji untuk memberi-tahu kalian semua tentang taktik manipulasi. Kini aku akan mencoba menjabarkannya, namun hanya dengan beberapa petunjuk. Lalu kalian koneksikan petunjuk-petunjuk kecil yang kuberikan di artikel ini, dan hasilnya adalah taktik manipulasi yang kamu cari-cari.
Sisi positif jika kamu tahu cara manipulasi yaitu penuh kontrol, tahu segalanya, selangkah di depan orang-orang, dan yah... Bisa anggap dirimu Tuhan. Tapi sebentar, adakah manusia sesempurna Tuhan di semesta ini? Jangan dijawab, itu pertanyaan retorik.
Sisi negatifnya, kamu penuh kontrol dengan cara memaksakan segala kondisi harus sesuai aturan-aturan buatanmu. Kamu memaksakan orang-orang di sekitarmu untuk memakai topeng, demi kesenanganmu. Padahal mereka tersiksa dalam diam, dan sakit karenamu. Kenapa? Karena kamu ingin merasa aman, penuh kontrol. Seperti yang kujabarkan di atas. Segala hal sesuai rencana, jadikan seperti rutinitas. Agar berjalan sempurna. Agar kamu aman.
Kamu tahu segalanya, selalu selangkah di depan orang-orang? Dengan cara memikirkan tiap seribu satu kemungkinan yang bisa terjadi tiap malam. Overthinking tiap malam, insomnia tiap malam, merasa insecure.
Apakah kamu yakin rela mengorbankan pikiran sehatmu dan jam tidurmu hanya demi bisa memanipulasi orang lain dengan kontrol? Jika iya, maka kuberi tahu penjelasan lagi.
Bahkan nanti, kamu akan menjadi sangat susah dalam memberi kepercayaan pada orang lain. Karena selalu memikirkan kemungkinan terburuk pada orang lain, kamu merasa harus selalu siaga terhadap orang-orang di sekitarmu. Agar apa? Agar ketika mereka menyerang, kamu bisa dengan mudahnya mengalahkan mereka. Menyenangkan, di awal. Tapi di akhir? Bisakah kamu bayangkan penderitaan orang itu? Dan kamu juga akan menderita, ketika sadar di awal bahwa yang kamu lakukan sebenarnya juga menyakiti dirimu sendiri. Kamu ditinggalkan. Sendirian. Hanya bersama pikiranmu yang kini sudah sakit, virus-virus negatif mulai menguasai pikiranmu. Lalu di akhir? Di pikiranmu menciptakan sesesok monster iblis yang jahat. Yang lama-lama, bukan kamu lagi yang menguasai pikiranmu. Tapi monster tersebut. Tahukah kamu apa makanan favorite monster tersebut? Kehancuran. Pada dirimu sendiri, maupun orang lain.
Sisi buruk selanjutnya adalah kini kamu sakit, ditinggalkan, dan menyedihkan. Kamu memiliki monster yang hidup dalam pikiranmu, yang akan selalu menjadikanmu boneka sirkusnya. Dan kamu tidak bisa berkutik. Karena manipulasi, the deadly desire to control others, hanyalah sebuah jebakan. Jebakan dari rasa dendam terhadap seseorang. Jujurlah padaku, di awal kamu ingin mengetahui teknik manipulasi karena ingin menghancurkan seseorang kan? Itu balas dendam.
Tapi kini apa? Nyatanya kamu yang dimanipulasi. Dan sekali saja monster itu telah menemukan tempat tinggal di pikiran manusia, akan sangat susah untuknya pergi. Kamu menjadi tahanan dalam penjara yang kamu buat sendiri.
Tanpa sadar, kamu akan menjadi tukang control freak yang dibenci banyak orang. Dan sialnya? Kamu tidak bisa berhenti. Karena menghancurkan orang lain dan menghancurkan dirimu sendiri adalah makanan monster tersebut. Siapa kini yang akan membantumu keluar?
Ketika kamu meminta bantuan, kamu juga sudah tidak bisa mempercayai siapapun. Pikiranmu sudah sakit. Dan makin lama, bagai parasit, monster dalam pikiranmu akan membunuhmu juga. Ia akan membuat dirimu sendiri membencimu.
Kamu melihat begitu banyak orang yang meninggalkanmu karena kamu begitu susah untuk dimengerti. Mereka pergi satu-persatu karena kamu terus-terusan menyakiti mereka, mereka hanya ingin berlindung darimu. Kamu akan semakin menyalahkan dirimu. Bahkan melihat ke arah cermin pun jijik, tak sudi. Kamu akan membalik semua cermin di kamarmu. Tidak makan berhari-hari, tidak tidur berhari-hari. Kamu akan merasa tidak adil. Saat orang lain ingin berlindung darimu, mereka bisa pergi darimu. Tapi kamu? Jika kamu ingin berlindung dari dirimu sendiri, tak bisa karena sialnya kamu terjebak dalam penjara di pikiranmu sendiri, tidak akan pernah bisa pergi. Kecuali jika kamu mati.
Jika kamu siap mati, maka silahkan. Manipulasi semua orang sesukamu, ambil kontrol dan kekuasaan sebanyak yang kamu mau. Tapi selalu inget semua konsekuensi yang sudah kutulis di atas.
Berhati-hatilah. Beberapa hal lebih baik untuk tetap menjadi rahasia dan tidak diketahui.

11/22/2019

this is a cry for help. (sebuah frasa)

November 22, 2019 3 Comments
Tolong. Aku bergelantungan di jurang kehancuran lagi.
Tolong. Mengapa mulutku terbungkam dan malah tersenyum?
Tolong. Aku sedang disekap oleh monster kejam yang sedang bersiap menghunuskan pedangnya ke jantungku.
Tolong. Di sini gelap, tiada siapapun. Aku sendirian. Aku berusaha memeluk Tuhanku.
Tolong. Mulai kulihat cahaya di ujung lorong, samar-samar bayangan manusia sedang bercengkrama. Wahai kalian, dengarkan teriakan ku. Banyak sekali orang, tapi monster itu telah menebas pita suaraku.
Tolong. Aku terbungkam, terantai dan dipukuli monster ini berkali-kali.
Tolong. Seseorang, kumohon lihatlah ke belakang. Luangkan waktu kalian sebentar saja untuk menolongku.
Tolong. Kumohon, lihatlah tangisku yang berbalut senyuman. Aku tidak lagi sanggup berpura-pura kuat.
Tolong. Monster itu sudah mulai menemukan titik lemahku yang baru.
Tolong. Ia menyeringai dengan taringnya yang tajam, menggertakkan giginya dan mencekek leherku kemudian menjeburkan kepalaku ke dalam air.
Tolong. Aku kehabisan napas. Tanganku bergerak tak tentu arah ke atas berusaha mencari udara tapi tidak bisa, tanganku terikat kuat dengan rantai dingin penuh duri.
Tolong. Sesak, aku mulai menelan air. Segalanya terasa kabur. Dadaku dihujani batu ton besar, kini pecah berkeping-keping.
.
.
.

Seseorang... Tolong aku. Kumohon. Kumohon. Kumohon. Aku tidak berani meminta bantuan kalian. Monster ini sedang menyekapku. Kumohon. Tolong. Tolong. Tolong.

7/25/2019

Vida (Hidup)

Juli 25, 2019 1 Comments

"Kita hidup di dunia ini hanya numpang minum air," - kata salah satu idiom Jawa.
Well, that's true. Pertama kali kudengar kalimat itu terlontar dari Ayahku. Saat itu aku sedang galau karena tidak diterima di universitas impianku. Ayahku bilang bahwa dunia ini hanya fana. Kesenangan-kesenangan dunia sebenarnya adalah jebakan untuk menyesatkan, supaya kita lupa akhirat. Padahal daripada mengejar dunia, kita seharusnya mengejar akhirat. Setelah hidup di dunia ini, jika kita mati (di agamaku) maka akan ditempatkan di kehidupan selanjutnya, akhirat. Hidup di akhirat akan lebih lama lagi daripada di dunia, diibaratkan dunia ini hanyalah numpang minum air.
Namun tentu saja, aku mengelak. Bagiku, akhirat memang penting tapi dunia ini juga sama pentingnya. Jika hidup hanya mengejar akhirat, bisa-bisa jadi tidak peduli dengan sesama karena sibuk memperkaya diri dengan shalat dan hanya i'tikaf di masjid (jika ditilik dari contoh agamaku).
Aku lebih memilih jika seorang individu seimbang, mengejar akhirat namun juga mengejar dunia. Misalnya, membantu orang yang membutuhkan. Lewat gelar sarjana, mendapatkan pendidikan, lalu ilmu dibagikan ke manusia lain, bukankah sama bagusnya?
"Tapi setidaknya punya harapan, lah, Pa. Punya cita-cita. Punya tujuan. Kalau ga gitu, hidup nanti rasanya ga berguna" kemudian diriku flashback ketika dulu berusaha bunuh diri berkali-kali. Sekarang bisa berubah karena aku menemukan tujuan hidupku. Akhirnya, aku menemukan jawabannya setelah 17 tahun berpikir bahwa aku tidak berharga dan tidak pantas hidup. Akhirnya.
Lalu Papa ku membalas, "Iya. Emang. Punya harapan itu penting. Allah juga suka sama hambaNya yang berharap. Tapi hidup ga melulu soal dunia. Kalau ga keterima universitas ya udah gapapa, cari kerja aja. Kamu ditawarin kerja **** sama ****, itu ambil. Les bahasa dulu setahun. Nanti setelah selesai kuliah juga yang dicari apa lagi? Kerja. Pasti ada jalan keluarnya. Dunia sama akhirat itu sama-sama penting. Tapi lebih penting akhirat. Yang penting kamu udah berusaha. Hasilnya bukan kamu yang menentukan, jangan keminter daripada Allah. Kamu sombong namanya, mendikte Allah. Ikhlas, Vid. Itu kunci supaya bahagia dunia dan akhirat. Kamu coba belajar ikhlas. Papa juga masih belajar, karena memang susah. Tapi harus,".
Segera saja, aku tertohok. Benar juga. Aku pun segera mengubah mindsetku. Aku percaya, ketentuanNya selalu yang terbaik. Aku harus ikhlas, yang penting sudah berusaha. Memang, ditolak universitas, ditolak kerja, segala hal yang berhubungan dengan penolakan itu sakit. Sedih? Sangat boleh. Wajar. Kita manusia, punya emosi (kecuali psikopat/sosiopat). Tapi, bangkit lagi adalah sebuah keharusan. Ikhlas. Yang penting sudah berusaha. Daripada tidak sama sekali berusaha? Itu baru boleh menyesal. Tapi jika sudah berusaha kemudian menyesal dan menyalahkan diri sendiri karena ditolak, kumohon berhenti. Jika begitu terus, sama saja kita menyiksa diri kita sendiri. Belajar ikhlas, mengkasihani diri. Cintai diri, sayangi diri.
Jika kamu punya keinginan yang sangat besar, lakukan (asal itu baik). Jangan biarkan keragu-raguan menghentikan. Karena rasa menyesal akibat tidak pernah mencoba lebih sakit, daripada sedih akibat semua tidak sesuai rencana. Lebih baik mencoba. Jangan pernah takut. Jika kita takut, sama saja kita membatasi potensi kita. "Padahal dalam diri kita mengalir emas", kata Rumi. Aku tidak lagi kesal karena tidak diterima di universitas yang kuimpikan, setidaknya aku sudah berani mencoba. Aku cukup mengapresiasi keberanianku walau ditolak. Setidaknya, aku berani mencoba. Dan aku paham, takdirku untuk tidak ditempatkan di universitas ini adalah pilihan Tuhanku. Aku pun bisa perlahan mencoba ikhlas.
Kemudian saat aku sudah mulai ikhlas dan percaya lagi pada Tuhanku, tiba-tiba ada pengumuman bahwa aku diterima di universitas keinginanku yang lain. Setidaknya, aku dapat sekolah. Itu sudah cukup. Langsung saja, saat aku shalat ketika sesi doa, air mataku tumpah tanpa bisa dicegah. Begitu deras. Tidak bisa berhenti. Tuhanku sungguh baik, setelah aku mendiktenya dan sombong, masih saja memaafkanku.
Padahal masa laluku juga begitu kelam. Aku suka keluar malam, merokok, mabuk, pernah berusaha bunuh diri berkali-kali, dan hal-hal bodoh lain yang kulakukan. Aku melakukan hal-hal bodoh itu karena aku ingin tenang. Tapi bodohnya aku, merokok atau mabuk sungguhlah hal buruk. Efek jangka panjangnya akan mematikan. Untungnya, Tuhan tidak meninggalkanku. Ia menuntunku lagi lewat orang-orang sekitarku dan akhirnya aku bisa lepas dari kecanduan hal-hal tersebut dengan susah payah. Padahal jika dipikir-pikir, saat berdoa dan curhat pada Tuhan itu juga bisa membuat tenang. Efek buruk jangka panjang pun tak ada. Memang sungguh bodoh diriku di masa lalu.
Tapi meski aku bodoh seperti itu, Tuhanku langsung menjawab doaku ketika aku bisa benar-benar ikhlas, pasrah dan mendekatkan diriku lagi padanya. Memang benar,
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”
Mempunyai harapan itu penting sekali. Manusia mengecewakan. Dan hanya kepada Tuhan aku bisa menangis ketika dirasa manusia tidak ada yang bisa menolongku (untuk atheist, maaf). Tapi, semoga kalian yang sedih karena dunia ini. Kumohon, ingatlah bahwa selalu ada harapan.
Aku bersyukur aku masih hidup sampai sekarang. Saat dulu aku berusaha bunuh diri, aku takut pada dunia. Aku belum siap menghadapi dunia ini, aku terlalu pengecut. Tapi aku lupa, aku punya Tuhan yang lebih besar daripada masalahku. Jadi begitulah, aku lebih memilih untuk bunuh diri saat itu.
Tapi Tuhanku tetap baik padaku, ia menggagalkan upaya bunuh diriku berkali-kali. Pasti ada alasannya. Dulu aku benci mengapa saat hidup aku disiksa, tapi saat ingin mati aku ditahan. Namun kini aku paham mengapa semua itu harus terjadi.
Namun kini aku paham, semua masalah yang diberi padaku adalah cara Tuhan untuk menempaku menjadi lebih kuat. Si Lavida bodoh, naif, takut sendiri kini berubah menjadi Lavida yang kuat, lebih hati-hati, dan mandiri. Sungguh perbedaan yang kontras. Seandainya aku berhasil bunuh diri di masa lalu, aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang kurasakan di masa sekarang.
Cahaya akan datang, meski rasanya sekarang kamu sedang ada di dalam gua tergelap. Jangan diam saja mengutuk diri di dalam gua gelap itu, kita harus berjalan mencari jalan keluar. Jika kita hanya diam, kita tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Ayolah, angkat kepalamu. Angkat tubuhmu. Langkahkan kakimu. Kamu pasti juga akan keluar dari gua itu. Aku pernah tersesat juga sepertimu. Jadi, ada harapan, kok. Kita nanti bertemu di luar gua, ya, dengan sinar mentari yang menghangatkan. We are our own heroes, let's save ourselves!

1/13/2019

Past My Bed Time

Januari 13, 2019 0 Comments

"Hate to see you like a monster So I run and hide.

Hate to ask but what's it like to leave me behind?
Are the pieces of you in the pieces of me?
I'm just so scared you're who I'll be.
When I erupt just like you do,
they look at me. Like I look at you.
Eyes like yours can't look away.
But you can't stop DNA," - DNA, Lia Marie Johnson.
Trauma. Menurut Wikipedia, kata penuh drama itu mempunyai arti bahwa hal tersebut merupakan salah satu jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Hal yang akan menghantui hidupmu, menemani jiwamu bersama bayangan gelap di pikiranmu. Membuatmu sulit untuk tertidur di malam hari, juga membuatmu gelagapan menghadapi dunia di pagi hingga sore hari.
Malam ini, monster di pikiranku datang lagi. Biasanya jika begini, aku akan menelepon seseorang untuk membantuku mengusirnya. Aku terlalu lemah, begitu pengecut untuk mengusir monster ini sendirian, aku butuh orang lain. Namun takdir kali ini mendampratku. Kali ini, aku tidak punya siapapun untuk dimintai pertolongan. Semua orang sudah meninggalkanku. Aku benar-benar sendirian sekarang, bersama monster yang mulai meracuniku. Memang ada beberapa orang yang masih peduli, namun melihat mata mereka berbinar ketika aku membawa kabar gembira bahwa aku sudah sembuh, membuatku menjadi tidak enak jika aku berkata bahwa malam ini pikiranku mulai gila lagi. Mereka begitu bahagia mengetahui bahwa aku sudah bangkit, bahwa aku kini bahagia. Aku tidak bisa mengecewakan mereka jika aku bilang bahwa malam ini sang monster telah datang lagi. Aku harus menghadapi monster ini sendirian.
Monster di kepalaku berbisik bahwa orang-orang meninggalkanku karena mereka adalah orang yang egois, tidak punya hati, dan dari awal hanya ingin mempermainkanku. Ia bilang bahwa mereka kejam, hanya ingin mengambil hal yang bisa dimanfaatkan dariku lalu pergi begitu saja ketika aku dirasa sudah tidak berguna bagi mereka. Ia bilang bahwa sekarang aku sudah mengerti sifat asli mereka, lalu apa gunanya untuk tetap berharap? Ia bilang bahwa aku lebih baik mati, lagipula sekarang sudah tidak ada yang peduli. Aku sudah tidak bisa cutting, ada seseorang yang setiap hari mengecek lenganku. Aku juga tidak mau membunuh monster di pikiranku dengan hal-hal lain yang merusak diriku lagi, aku sudah janji pada seseorang. Tapi aku tersiksa sekarang. Aku butuh ketenangan. Aku hanya bisa menangis di kamar sendirian, membuat keyboard laptop yang kugunakan untuk mengetik menjadi basah.
Monster ini masih memelukku erat selagi aku menangis, aku mulai menemukan kenyamanan di pelukannya. Perlahan, ia menampilkan film kehidupanku di masa kecil. Kembali ke masa lampau, dimana Lavida kecil berumur 6 tahun sendirian dan menangis di dalam kamar mandi. Berteriak untuk dikeluarkan namun tidak ada yang menjawab. Lalu aku melihat masa kecilku yang menutup telinga dengan kedua tangan mungilnya, sembari memejamkan matanya erat-erat di kamar mandi, terdengar suara jeritan dan tangisan di luar. Ia terduduk di kamar mandi lalu tanpa sadar tertidur sambil menahan dingin.
Keesokan paginya, ia sudah berada di atas kasur. Ia mencari seseorang, namun seseorang yang ia cari tidak bisa ia temukan dimanapun. Ia menangis kembali. Dalam hati kecilnya ia bertanya, "Mengapa ia meninggalkanku lagi? Mengapa aku sendirian lagi? Tidak bisakah setidaknya salah satu dari mereka memberiku pelukan setelah apa yang terjadi kemarin?".
Monster ini menamparku, menyadarkanku dari lamunan, membawaku kembali pada realita. Aku tersadar. Kudapati wajah seramnya satu inchi di depan hidungku. Aku melihatnaya menyeringai. Bola matanya menatapiku tajam. Aku tundukkan kepala lalu memejamkan mata. Tiba-tiba ia menarik daguku kasar, memaksaku menatapnya. Setetes air mataku jatuh, dengan lirih aku meminta "Kumohon lepaskan aku. Pergilah, kumohon... Aku lelah menghidupimu di pikiranku. Kumohon biarkan aku fokus pada kehidupanku. Kumohon... Biarkan aku tenang,". Ia terdiam untuk beberapa detik, kemudian tertawa kencang.
"Hidup denganmu memang menyenangkan, monster. Kamu janjikan padaku sesuatu yang hebat, sebuah kontrol. Kamu bilang bahwa jika aku menjauhi seseorang yang kusayangi, maka aku tidak akan pernah merasakan ditinggalkan lagi karena mereka tidak akan sempat melakukannya. Tapi apa? Aku menurutimu, dan karenamulah semua orang meninggalkanku. Jika saja aku bisa hidup seperti manusia normal dan tidak gila karena ada kamu di pikiranku, aku pasti sudah mempunyai hubungan yang sehat dengan orang-orang sekitarku. Namun karenamu, aku menjadi racun bagi orang-orang di sekitarku, yang membuat mereka akhirnya meninggalkanku. Ini semua salahmu. Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu lagi," lanjutku padanya.
Ia bertepuk tangan sambil tertawa untuk yang kesekian kali, "Lavida bodoh. Aku ini ada untuk menjagamu dari dunia yang kotor. Masih butakah kamu dengan film yang barusan kuputar? Tidakkah kamu lihat? Semua orang memang akan meninggalkanmu. Aku memberimu saran terbaik, yaitu meninggalkan orang terlebih dahulu sebelum kamu ditinggalkan. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang sudah jelas akan berakhir? Akhiri saja secepatnya, supaya segalanya selesai. Kamulah yang terlalu bodoh. Masih saja bandel ketika aku memberi saran. Lihatlah, mereka semua meninggalkanmu, bukan? Ini semua akibat kebodohanmu. Seandainya kamu mengikuti saranku, untuk tidak pernah percaya pada siapapun. Untuk tidak pernah membiarkan hatimu dimasuki orang lain. Untuk tidak pernah menyayangi seseorang. Kamu tidak akan merasakan sakit hati yang terlalu parah seperti sekarang ini," balasnya.
"Kamu benar-benar pintar untuk memanipulasi keadaan, monster gila. Tapi setidaknya aku memiliki memori dengan orang-orang yang kusayangi lebih banyak karena aku tidak meninggalkan mereka terlebih dahulu. Setidaknya, aku merasakan sedikit kasih sayang dari mereka. Yang tidak akan bisa digantikan atau dibeli oleh apapun. Aku berhak untuk disayangi. Walau di akhir aku merasakan rasa sakit, setidaknya aku bersyukur aku memberi orang-orang yang meninggalkanku sebuah kesempatan untuk menyalurkan empati mereka. Walau aku tahu, mungkin beberapa dari mereka hanya kasihan dan tidak tulus. Tapi, kumohon pergilah! Aku sudah dalam tahap recovery. Aku sudah mulai bahagia. Untuk apa kamu datang lagi?"
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku selamanya akan tinggal di dalam pikiranmu. Menghantuimu tentang masa kecilmu yang tidak akan pernah bisa kamu lupa. Dan jika kamu mau bekerja-sama denganku, baguslah. Namun jika kamu ingin aku pergi, aku tidak akan pernah bisa. Kamu sudah mempersilahkanku masuk, maka selamanya aku akan tinggal. Jika kamu tidak ingin aku, bersiaplah untuk melawanku seumur hidupmu. Bersiaplah untuk selamanya sengsara berperang denganku di pikiranmu sendiri. Bersiaplah, dan ingatlah bahwa tidak akan ada yang mengerti maupun membantumu. Kamu hanya akan dianggap gila. Tidak akan ada yang mengerti keadaanmu, kecuali jika mereka rasakan sendiri. Semua ada di tanganmu. Ingatlah bahwa jika kamu memilih untuk melawanku, kamu hanya akan berperang sendirian."
"Twice as year, you come in crashing.
Nice to see you too,
but always ends too soon.
Hate to say hello,
'cause I know that it means goodbye"
 FLASHBACK
1. 2015
"Please, believe. I won't ever leave you like they did. I won't let you fight this war alone. Let me help you. Let me love you, Vid." he said while looking at my eyes. I stare into some empty space, then I found myself in my childhood memories. "Can I really believe in you?" I ask again. He nod his head. "Please, don't ever leave me." I said while trying not to burst out my tears because my mind thinking in the future he will leave me. Three months later, he left.
2. 2016
"Seriously, I'll always beside you. I'll never leave. You are my best friend. You can tell me anything about your problem, I'll hear it anytime, anywhere." she held my hand tightly. I hug her, she hugged me back. "Thank you so much," I said while thinking about with what kind of story-line she will leave in the future. And then one year later, she left me. She said, "I am so tired with all of your drama and shit. Let's just never talk again,". But it's not the only reasons. I knew something else was up. Until one week later, I found out she was trying to steal a boy I like. Well, I don't really care about the boy, I was really hurt because she said we were best friend and yet she back-stabbed me and choose that boy instead of me.

3. 2018

"Please, just tell me what happened. Your secret is safe with us." she said while holding my hand, making me flashback of old memories in 2016. I was surrounded by five girls, all of them was my classmate. I was really sceptical, I was always got betrayed by everyone in the end. Should I really give them a chance? I decided to just give them the silent treatment, not answering.
"It's okay to talk about it. We won't tell anyone. And I promise, we will never leave you," I almost rolled my eyes, but tried my best not to. There's that promise again, I am so tired of all the broken promises. I am tired, I just want to be alone.
"Lav, you are not alone. There's many people will help you here. You have to trust us. Okay?" one of them open her mouth. I sighed loudly, "Fine..." I was stupid. I gave them a chance, but inside, in my mind I was thinking about the future when they will leave. They all were really kind to me, I felt so blessed. This is the longest friendship I ever had with someone, I couldn't be happier. I let my guards down. I let them to get inside my heart. I gave them my trust, my love, my everything. But I guess, I was blind for a while. They were just trying to be nice and pitying me. I found out so I was a little bit scared, sooner or later, they will leave. And some months later, they left. Can't blame them, though. I am really hard to dealt with. And it was my fault to give someone my trust, I shouldn't have done that.

Then a boy came. He said he would marry me. He said he would never leave me. He said he would never leave me. "Vid, I am not them who left you. Just remember, I will never leave. Now, I am working so we can have a future together." I stopped myself for a while. Should I really give this person a chance? I was ignoring him for months. I was being stupid. But, he still waits for me. But I am still scared. I am still so freaking scared. Even until now. And I feel so evil. I don't love he. I love someone else in secret. I don't know what to do. I don't want to lose him, because I already love him as like my older brother, nothing more than that. But he have to leave me, because he deserve someone better than me. But still, I am so freaking scared.
"We are all broken,
that's how the light gets in," - Ernest Hemingway. 

4/15/2018

Target Kebencian

April 15, 2018 0 Comments

Mungkin bagimu aku target yang mudah, lemah, dan mudah berpasrah diri untuk disakiti.
Bagimu aku adalah tikus percobaan yang tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali mengkasihani diri ketika akan dieksekusi untuk merasakan kematiannya.
Aku merasakan sakit hati setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik karena sikapmu padaku.
Pekerjaan sehari-harimu, bagaikan sang algojo yang dengan senang hati menyiksaku.
Mengapa engkau begitu tega?
Aku berdarah, lututku membiru, hingga sudut bibirku yang robek.
Namun kau menutup mata, memilih tidak peduli.
Karena menyiksaku adalah permainan menyenangkan di hidupmu yang membosankan, bukan?
Bibirmu dengan licik menyeringai, sambil menggiringku ke alat pemenggal kepala.
Shit, I got it. So stop it! I am the root of all this, so I'll stop myself. If my misfortune is your happiness, I'll happily stay unfortunate. If I'm the figure of hate, I'll get on the guillotine.

4/14/2018

Why?

April 14, 2018 0 Comments

Dear Diary...
It's like I don't deserve to be happy.
'Cause why the heck I always get misfortune whenever I just had temporary-happiness?
It's like I don't deserve to laugh anymore.
'Cause why the heck I always get depressed whenever I am trying to run from it?
It's like I don't deserve to smile anymore.
'Cause why the heck I always finding myself crying alone in the bathroom whenever I just felt a little happiness?
It's like I prohibited to love myself.
'Cause why the heck I always get scrutinized whenever I am trying to accept all of my flaws?
It's like I don't deserve to live, but don't deserve to die either.
'Cause why the heck my life is damned in so many ways, but it makes me scared with death even when I try to die instead?
Why the heck the world is so cruel?
Why the heck the world do this to a little human like me?
Why the heck the world execute me without a little agony?
Why the heck the world imprisoned me but consuming me with no food but poison?
Why the heck did the world didn't even bat an eye to recognize I am dying piece by piece?
I am tired.
I just want to sleep,
But not wake up anymore,
But it's for-ever.